Biru di Timur, Hari Awal di Biak.

Author: navyk  |  Category: go to our world, open source please

Setelah melewati dua zona waktu selama empat setengah perjalanan di udara, Saya, Machrus Muafi, dan Yoga Prihanto mendarat di Bandara Frank Kaisepo, Biak Papua (8/5). Langit masih gelap, meski timur mulai menunjukkan birunya. Jam tangan menunjukkan 05.00 WIT. Kami berdua adalah tim AirPutih dalam proyek literasi untuk tuna netra yang ditugaskan ke Panti Tuna Netra Cendrawasih Biak Papua. Pada waktu yang sama ada dua tim yang menuju Ruteng NTT dan Ponorogo Jawa Timur.

Selama dua minggu kami akan berada di Biak untuk mengajarkan kemampuan komputer untuk teman-teman tuna netra di sini. Pelatihan ini salah satu rangkaian kegiatan dalam proyek Baca Buku, Buka Dunia. Sebuah program literasi untuk tuna netra, kerjasama antara yayasan AirPutih dengan UNESCO. Sebelum latihan dilakukan, AirPutih memodifikasi linux Ubuntu 8.10 agar lebih ramah kepada penyandang tuna netra. Aplikasi pembaca layar di Linux, ORCA akan langsung aktif saat komputer menyala. Selain itu halaman login juga dihilangkan, sehingga tuna netra langsung bisa masuk tanpa mengetikkan user name dan password. Karena ini program literasi, buku-buku elektronik juga AirPutih masukkan dalam Ubuntu yang telah ter-install.

Kami berdua langsung menuju ke hotel, setelah beberapa kali bertanya, kami tidur di Hotel Mapia. Sebuah hotel yang persis terletak di tengah Kota Biak. Seperti kebanyakan kota di Papua, Biak juga kota kecil. Pusat kotanya bisa dikelilingi dalam beberapa menit saja, yang membedakan dengan kota lain mengkin adalah banyaknya kantor-kantor tentara. Semua angkatan di Tentara Nasional Indonesia mempunyai kantor di Biak. Belum lagi Polisi dan Brimob.

Pukul sembilan pagi, kami sudah dijemput oleh Pak Umar dan Pak Munawir. Pak Umar adalah contact person selama berhubungan dengan Panti Tuna Netra, sedangkan Pak Munawir yang kami kenal di pagi itu ternyata adalah Kepala Tata Usaha Panti Tuna Netra Cendrawasih. Kami berempat langsung menuju ke Panti Tuna Netra Cendrawasih, “Orang sini menyebut Panti,” ujar mereka.

Melawati pusat kota, mobil menuju ke perbukitan. “Panti letaknya di atas,sekitar lima kilometer dari pusat kota,” ujar Munawir. Kesan pertama yang timbul saat memasuki kompleks panti adalah megah dan luas namun kosong. Ada gedung tak berisi apa-apa. Kompleks panti tuna netra satu-satunya di Papua ini luas, sekitar dua hektar. Kantor kepala panti menjadi gedung yang termegah, ada beberapa gedung lain di kompleks ini. Seperti ruang praktek ketrampilan, ruang dapur dan makan serta asrama untuk putra dan putri. Selain itu beberapa rumah dinas pegawai juga nampak di kompleks ini. Aktivitas penyandang tuna netra belum terlihat.

Panti tuna netra ini sudah berusia cukup lama, panti ini dibangun pada tahun 1970. Setelah mengalami beberapa pergantian nama, Panti Tuna Netra Cendrawasih menjadi nama terakhir panti yang dibawah Dinas Sosial Provinsi Papua. Ini adalah panti tuna netra satu-satunya di Papua. Murid yang tinggal di panti berasal dari berbagai tempat di Papua seperti Merauke, Wamena dan Jayapura. Wilayah Maluku juga menjadi wilayah kerja panti ini, sayang saat kami berda di sini murid yang berasal dari Maluku sudah diambil keluarganya. Panti tuna netra yang sama dan paling dekat dengan panti ini ada di Manado.

Memasuki kantor kami disambut beberapa pengurus Panti, beberapa diantaranya adalah orang lokal seperti Fredrik Dimara dan Godfred. Sambutan mereka baik, bahkan Fredik bercerita bahwa apa yang dilakukan AirPutih adalah sesuatu yang ia impikan sejak lama. “Seperti hujan saja, tiba-tiba jatuh. Saya pernah meminta adanya program komputer untuk tuna netra dengan seorang perempuan yang melakukan penelitian di sini, ternyata bapak-bapak yang membawanya,” kata dia sambil tertawa lebar. Ia mengatakan murid yang tinggal di panti ketinggalan jauh dengan tuna netra di Jawa. “Belum ada yang bisa komputer, padahal sekarang sudah zaman internet,” tambah dia.

Fredrik menjelaskan beberapa ketrampilan yang diajarkan adalah membuat keset, pijat dan sapu. Ada sekitar dua puluhan tuna netra yang tinggal di asrama. Umur mereka sekitar 20-an. “Untuk yang bisa baca baca tulis sekitar tujuh orang, namun peserta saya yakin bisa 10 orang,” kata dia. Ia juga menjelaskan banyak anak yang tinggal di panti tidak sekolah. “Semoga dengan komputer ini bisa memacu keinginan mereka,” ujarnya.

Setelah mengenalkan diri dan bertukar pikiran, Saya dan Yoga melihat komputer yang dikirim AirPutih Jumat lalu. Kamputer itu masih terpak rapi di ruang administrasi. Ada dua komputer di panti itu. “Ada juga satu komputer Braille cuma sudah rusak,” cerita Marmah, salah seorang pengurus panti yang sudah tiga kali mengikuti pelatihan komputer.

Rencana awalnya pelatihan komputer akan diadakan di gedung serbaguna yang letaknya persis di samping kantor pusat. Namun untuk pertimbangan agar lebih mudah dan program ini berkelanjutan, Saya dan Yoga meminta pelatihan diadakan di ruangan yang akan dibuat ruang komputer. Lima komputer sudah cukup untuk sebuah ruang komputer. Setelah berbincang beberapa menit, diputuskan ruang rapat akan disulap menjadi ruang komputer. Kebetulan juga ada lima meja kantor baru yang belum dipakai.

Pengurus panti menyiapkan ruangan itu, saya dan Yoga juga mulai merangkai komputer dan menata letak komputer. Ruangan itu ternyata pas. Dengan model kelas, lima komputer tampak rapi berbaris. Satu-persatu kelima komputer itu juga kami tes. Semuanya baik dan lancar, termasuk suara yang keluar dengan jernih. “Logatnya bule, mirip JAWS,” kata Marmah lagi.

Setelah kami menyelesaikan setting komputer, dengan diantar Munawir kami berkeliling panti. Halaman lebar di depan gedung keterampilan dipakai main sepakbola. Ada empat remaja tuna netra main sepakbola. Meskipun tidak bisa melihat mereka bisa menebak arah bola dengan benar. Mereka mendeteksi gerakan bola dengan suara. Bola sepak mereka bungkus dengan kresek hitam. “Kresek-kresek” suara bola saat beradu dengan tanah. Sederhana tapi efektif. Wajah meraka ceria. “Bola yang ada bergemerincing hanya ada di Bandung,” cerita Munawir.

Pada suatu sudut lain asrama, persisnya di depan kamar terlihat tiga orang tuna netra berbincang. Dua diantaranya tidak muda lagi. Tersandar sapu lidi dan kemoceng yang terikat rapi. “Itu hasil ketrampilan yang dijual oleh anak panti,” ujar Munawir. Mereka menjajakan hasil ketrampilan itu di pusat kota Biak.

Itulah ketrampilan yang selama ini diajarkan di panti. Sepertinya pelatihan komputer menjadi sesuatu yang baru bagi mereka. Apalagi banyak dari meraka yang tidak mengecap pendidikan formal. Sebuah tantangan untuk Yoga dan Saya. Keterampilan komputer akan menjadi keahlian mereka berikutnya. Itu yang coba kami buat dalam dua minggu mendatang. Sebuah awal tentunya.

Sedikit Berbagi

Author: navyk  |  Category: go to our world

Pagi tadi bermula SMS dari seorang kawan, dia beritahu ada gempa di Taulud Sulawesi Utara. Setelah sampai kantor dan lihat situs bencana AirPutih,lihat angkanya. 7,4 SR yang terjadi dini hari (12/2), besar juga. Ia juga menyertakan sebuah nomor telepon, ia mem-forfard SMS temannya. Begini isi SMSnya: ini aj org d talaud dipanggil om kota. dia suka ksh pengumuman d kota trus org humas sekda klo ga salah. dia dah ok gpp klo ditelp.

Saat baca pengumuman di kota jadi ingat di Manokwari, Januari lalu. Pengumuman disebarkan melalu mobil berpengeras suara. Jadul banget, sebab pengumuman model seperti itu terakhir seingat saya di tahun 80 an  kalo gak salah. Jadi promo film disebarkan dengan leaflet dan mobil ber-halo-halo. Pas saya lihat di Manokwari, saya tersenyum. Masih ada juga di zaman telepon seluler ini pengumuman dengan mobil keliling. Mantab. Mungkin seperti itu tugas Om Kota.

Pagi ini saya langsung menelepon dia, mencari tahu kondisi terakhir di Kabupaten Kepulauan Talaud. Nama itu juga pertama kali saya dengar. Selama ini saya hanya tahu Sangir Talaud, daerah Indonesia paling utara yang berbatasan dengan Filipina. Kepulauan Talaud ini adalah daerah pemekaran Sangir Talaud. Letaknya persis di ujung utara Indonesia. Dari Manado perjalanan pesawat dua jam, perjalanan laut 16 jam. Apalagi langsung berhadapan dengan lauatan pasifik.

Meskipun tidak ada laporan korban saat itu, saya ikut prihatin, banyak rumah yang rusak berat. Jadi ingat teman saya di Papua, Jhonal. Ia bercerita hari pertama gempa teman-teman RAPI ada yang standby di kantor BMG untuk updating data. Padahal dengan adanya koneksi internet semua persoalan itu selesai. Data gempa terbaru, langsuang bisa diakses. Apalagi saat gempa terus tidak ada sumber yang terpercaya.Itu hal yang sangat tidak menyenangkan, kita akan dipaksa untuk mengira-ngira gempa yang terjadi berbahaya atau tidak.padahal dengan buka beberapa situs dan memasang Aplikasi EWS. informasi itu akan datang ke kita.

Lalu kebiasaan buruk saat terjadi gempa selalu berdar isu-isu yang macam-macam, tsunamilah, gempa lebih besarlah. Masyarakat awam dan pejabat yang belum tahu tentang informasi bencana pasti akan khawatir. Pokoknya bikin kacau. Apalagi kalau gubernur salah dapat informasi dan menyebarkannya, seperti kasus di Manokwari baru-baru ini. Betul-betul kacau.

Saya tidak ingin itu terjadi di Kepulauan Talaud. apalagi dengan Om Kota, ia sosok yang bisa menerangkan ke masyarakat. Saya langsung bilang kepadanya, “Om, nanti kalau ada informasi gempa pasti saya kabari,” ujar Saya tanpa menjadi sok pahlawan. Tidak susah mengirim SMS setelah mendapat informasi valid dari BMG.  Itu saja yang saya bisa lakukan, sedikit berbagi.

Bondan Wanna Be Series- Mie Ayam Pak Kumis, Mie Ayam Jalanan Yahud.

Author: navyk  |  Category: bondan wanna be

Berada di depan monitor saat menulis ini, saya teringat dengan becandaan saya beberapa tahun lalu. Saat bekerja di radio MAS FM di Malang sana. Saya kebetulan bertugas jaga kandang, mengordinasikan reporter dengan teman-teman yang ada di studio. Jadi tiap siang menyaksikan Bondan Winarno mempromosikan makanan yang hampir semuanya jadi enak.

“Makanan itu anugerah buat saya. Oleh karena itu, menurut saya tidak ada makanan yang tidak enak. Kalaupun ada yang tidak enak, menurut saya itu hanyalah sebuah kecelakaan,” kata dia. Memang luar biasa itu Bapak. Langsung saja pendiri jalansutra itu jadi my role model untuk menikmati makanan. Read more…

Matamu Suwek!

Author: navyk  |  Category: go to our world

Hati kecil saya masih enggan memberi judul ini. Sangat kasar umpatan itu. Jika diartikan ke harfiah ke bahasa Indonesia kata-kata matamu suwek berarti matamu sobek. Datar saja. Sebab dialihbahasakan kata-kata itu kehilangan makna dan tujuannya- enggak dapet soul-nya. Tapi coba saja ucapkan dengan keras dan sepenuh hati. Sisipkan nada marah, sedikit saja. “Matamu Suwek!” ke orang Jawa Timur yang bisa bahasa Jawa dan berakal sehat. Cara bacanya mudah saja, eja biasa, ma-ta-mu su-wek. Wek-nya dibaca seperti di kata cewek.

Lalu perhatikan reaksinya, kalau enggak dibogem mentah atau orang itu pas bawa celurit, pasti celurit itu menghampiri Anda dengan senang hati. Reaksi paling minim, Anda akan dipelototi dan di-pisuhi balik. Coba deh.

Read more…

080808

Author: navyk  |  Category: spells into the air

Aku ingati kau pada sepi
Bisu lagu panjang umur
Kelam lilin
Sumbunya tegak melawan gravitasi
Berputar kawan di labirin ujung pelangi

Hening
Tidak otak dan hatiku
Aku menyala
Ribuan titik api membakar sukma
Beribu cinta kuterbangkan ke Arsy
Berjuta asa  kutebar di tiap jengkal bumi
Aku tahu
Engkau tahu

Berserah
Bersiap
Detik  terus berdetak
Terjang saja.
Hempaskan
Jika tidak
Menggilas dia

Berlalu begitu saja
Tanpa senang dan tanpa sesal

Black is Positive

Author: navyk  |  Category: go to our world

Hitam lawan putih, ilmu hitam, dunia hitam, kambing hitam. Hitam selalu dalam posisi negatif di banyak konteks kalimat. Tapi tidak untuk penghematan energi. Warna hitam di layar monitor komputer lebih hemat energi dibanding warna putih atau terang. Hitam di berpindah ke posisi positif sekarang.

Read more…

best friend

Author: navyk  |  Category: spells into the air

kematian adalah karib
seperti sahabat
datang kapan saja
pintu selalu menyambutnya
susah senang
muncul saja
tak ada tanda
berjumpa
lalu berpisah

Jakarta, 8 Juni 2008

A Silent Journey

Author: admin  |  Category: go to our world

met ultah lumpur lapindo ke 2

“Met Ultah Lumpur Lapindo Ke 2.” Coretan itu getir. Tulisan itu meruntuhkan akal sehat. Hati kecil yang berkuasa. Mengiris hati. Menyobek perasaan. Goresan tangan berwarna hitam tak lebih dari 10 centimeter yang font-nya tidak keren, menempel di sebuah sisi dinding Pasar Baru Porong. Inilah tempat dimana harga diri tidak ada nilainya. Para pengungsi dipaksa meninggalkan kenangan, mencampakkan masa kecil, membuang persaudaraan. Itu tak tergantikan. Read more…

Let’s Go! Yuukk Mareee

Author: admin  |  Category: open source please

Satulangkah untuk perubahan!

let's ride

Yayasan Penggerak Linux Indonesia (YPLI) bekerja sama dengan Yayasan Ubuntu Indonesia, Yayasan AirPutih, dan berbagai komunitas di bidang FOSS (Free/Open Source Software) lainnya mengadakan roadshow Linux untuk pendidikan Teknologi Informasi dan Komputasi (TIK) di Indonesia selama tiga bulan, Mei-Juni-Juli 2008.

Read more…

Open Source Please..

Author: admin  |  Category: open source please

navyk: pemakai Open Office, Mozilla Firefox, Mozilla Thunderbird, Pidgin, VLC, Wordpress, Dia, Inscape, Gimp di Vista. Dual Boot Vista dan Ubuntu 7.10

Terkecuali Vista semuanya didapatkan gratis dan legal.

Hey, look out from the Windows! So much options there..